www.hukumonline.com/pusatdata
(1)
Permintaan Penyadapan dalam rangka penegakan hukum diajukan oleh penyidik kepada pimpinan
Pusat Pemantauan (monitoring center) di instansinya masing-masing.
(2)
Pimpinan Pusat Pemantauan (monitoring center) melakukan analisis untuk menerima atau menolak
permohonan Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)
Dalam hal permohonan Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, Pimpinan Pusat
Pemantauan (monitoring center) menindaklanjuti permohonan Penyadapan dengan mengajukan
permintaan penetapan Penyadapan kepada ketua Pengadilan Tinggi.
(4)
Permintaan penetapan Penyadapan kepada ketua Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada
ayat (3), disampaikan oleh pimpinan Pusat Pemantauan (monitoring center) dalam jangka waktu
paling lambat 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak permintaan Penyadapan dari
penyidik diterima.
(5)
Ketua Pengadilan Tinggi wajib mengeluarkan penetapan Penyadapan atas permintaan penetapan
Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam jangka waktu paling lambat 3 x 24 (tiga kali
dua puluh empat) jam terhitung sejak permintaan penetapan Penyadapan diterima.
(6)
Setelah penetapan Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikeluarkan, pimpinan Pusat
Pemantauan (monitoring center) segera mengajukan permintaan penyadapan kepada Pusat
Penyadapan Nasional dengan menyertakan penetapan Penyadapan yang dikeluarkan oleh ketua
Pengadilan Tinggi.
(7)
Penyelenggara Sistem Elektronik wajib segera membuka akses Penyadapan setelah menerima
permintaan Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (6).
(8)
Penyidik dapat langsung mengakses komunikasi yang menjadi sasaran Penyadapan melalui Pusat
Penyadapan Nasional setelah akses Penyadapan dibuka oleh Penyelenggara Sistem Elektronik.
(9)
Proses penyadapan yang sedang berlangsung sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dipantau secara
langsung oleh Pusat Penyadapan Nasional.
Pasal 8
(1)
Dalam hal keadaan mendesak, penyidik mengajukan permohonan Penyadapan kepada Pusat
Pemantauan (monitoring center).
(2)
Pimpinan Pusat Pemantauan (monitoring center) melakukan analisis untuk menerima atau menolak
permohonan Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3)
Pimpinan Pusat Pemantauan (monitoring center) mengajukan permintaan Penyadapan kepada Pusat
Penyadapan Nasional bersamaan dengan pengajuan permintaan permohonan Penyadapan kepada
ketua Pengadilan Tinggi.
(4)
Penyadapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bersamaan dengan pengajuan
permintaan permohonan kepada ketua Pengadilan Tinggi.
(5)
Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) wajib mengeluarkan penetapan atas
permohonan Penyadapan, paling lambat 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam terhitung sejak
permohonan Penyadapan dalam hal keadaan mendesak diajukan.
(6)
Dalam jangka waktu paling lambat 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak penetapan
dari ketua Pengadilan Tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikeluarkan, Pimpinan Pusat
Pemantauan (monitoring center) wajib menyerahkan penetapan atas permohonan Penyadapan dari
ketua Pengadilan Tinggi kepada Pusat Penyadapan Nasional.
Pasal 9
(1)
Keadaan mendesak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) meliputi:
a.
ancaman dan/atau bahaya maut terhadap keamanan negara;
5 / 19